PendidikanPeristiwa

Miris! Karpet Berlogo Masjid Jadi Alas Pentas, SDN 1 Jangga Losarang Bobrok dalam Etika Keagamaan

AMTV.com — Indramayu — Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh sebuah video yang memperlihatkan tindakan tidak pantas terhadap simbol keagamaan.

Dalam rekaman tersebut, terlihat sebuah karpet bergambar masjid dan tulisan kaligrafi digunakan sebagai alas pentas seni dalam acara perpisahan siswa di UPTD SDN 1 Jangga, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.

Yang lebih menyakitkan hati, karpet suci tersebut diinjak-injak oleh para peserta acara menggunakan sepatu.

Video berdurasi singkat itu dengan cepat menjadi viral dan memicu kemarahan warganet. Banyak pihak menilai tindakan tersebut sebagai bentuk ketidaksopanan dan penghinaan terhadap simbol Islam.

Penggunaan karpet bermotif masjid untuk kegiatan sekuler seperti pentas seni, apalagi hingga diinjak dengan alas kaki kotor, dianggap melampaui batas etika dan kesantunan beragama.

Menanggapi polemik ini, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Kabupaten Indramayu, Atim Sawano, turut angkat bicara.

Ia menyatakan keprihatinan mendalam atas kejadian yang terjadi di lingkungan pendidikan dasar tersebut.

Menurut Atim, insiden ini mencerminkan kurangnya pemahaman dan kepekaan terhadap nilai-nilai religius di kalangan penyelenggara acara maupun peserta didik.

“Ini sangat miris. Karpet yang bergambar masjid seharusnya dimuliakan, bukan justru dijadikan alas untuk diinjak-injak dengan sepatu. Ini adalah simbol rumah ibadah umat Islam,” ujar Atim saat dikonfirmasi awak media, Kamis 25Juni 2026.

Atim menekankan bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan seharusnya menjadi tempat utama penanaman karakter dan adab, termasuk adab terhadap simbol-simbol keagamaan.

Ia menduga kuat bahwa penggunaan karpet tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan atau kelalaian panitia acara dalam memilih properti panggung, bukan karena niat jahat. Namun, dampak psikologis dan sosial dari tindakan tersebut tetaplah serius.

“Kami berharap pihak sekolah dan dinas terkait dapat melakukan evaluasi menyeluruh. Ini bukan sekadar masalah estetika, tapi menyangkut sensitivitas keberagamaan masyarakat. Perlu ada teguran dan pembinaan agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.

Sementara itu, sejumlah warganet juga menyuarakan protes keras melalui kolom komentar berbagai platform.

Mereka meminta pertanggungjawaban pihak sekolah dan meminta agar ada permintaan maaf resmi kepada masyarakat, khususnya umat Islam di Indramayu.

Beberapa netizen bahkan menyarankan agar karpet tersebut segera ditarik dari peredaran atau dimusnahkan jika sudah dianggap tidak layak pakai akibat terkena najis atau kotoran sepatu.

Hingga berita ini diturunkan, pihak UPTD SDN 1 Jangga belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut. Masyarakat menunggu klarifikasi dan langkah konkret dari pihak sekolah serta Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu untuk menangani persoalan sensitif ini.

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi seluruh institusi pendidikan untuk lebih teliti dan hormat dalam setiap aspek penyelenggaraan kegiatan, terutama yang melibatkan simbol-simbol suci agama.

BERITA TERKAIT

Back to top button